Jumat, 07 Juni 2013

10 Negara yang Diadu Domba oleh Dunia Barat

 

Devide et impera merupakan politik pecah belah atau disebut juga dengan adu domba adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat.

Artikel berikut ini akan mencoba untuk menjelaskan beberapa contoh historis dari teknik lama ini yang sukses digunakan dibanyak negara di dunia. Death Squad yang di susun oleh intelejen Barat mampu memporakporandakan berbagai negara dengan metode adu dombanya.

Indonesia

Sejarah mencatat, kedatangan armada Belanda kali pertama mendarat di Nusantara, tahun 1596, tepatnya di Pelabuhan Banten, dengan tujuan berdagang yang dipimpin Cornelis de Houtman. Namun pada saat itu Belanda gagal mendapatkan izin dagang. Belanda baru resmi mulai berdagang di Batavia tahun 1602, ditandai dengan berdirinya kantor pusat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda di Batavia.

Cerita VOC kemudian berkembang menjadi upaya penjajahan terhadap bangsa Indonesia. Caranya, meneer-meneer Belanda menggandeng beberapa pribumi untuk menjadi karyawan mereka dan mengkhianati bangsanya sendiri. Raja di satu kerajaan diadu domba dengan raja lain yang pada akhirnya menimbulkan peperangan dan perpecahan bangsa ini.

Terdapat satu komunitas yang terus menerus berjuang untuk mempertahankan kedaulatannya, sementara di sisi lain berbaris komunitas yang sedang asyik menikmati rejeki hasil pengkhianatan.
 

Rumania

Pada tahun 1989, dalam film dokumenter Susanne Brandstätter yang disiarkan di stasiun televisi Arte, para pejabat intelijen Barat mengungkapkan bagaimana pasukan berani mati yang digunakan untuk mengacaukan Rumania dan membuat orang berbalik membenci terhadap kepala negara Nicolai Ceaucescu.

Film Brandstätter menggambarkan betapa kejinya kerjasama antara badan-badan intelijen Barat, kelompok hak asasi manusia yang berkolusi untuk menekan pemimpin negara-negara tertentu karena model kepemimpinannya bertentangan dengan kepentingan barat.

Mantan agen rahasia dengan dinas rahasia Prancis, DGSE (La Arah générale de la Securite extérieure) Dominique Fonvielle, berbicara terus terang tentang peran intelijen Barat di mendestabilisasi penduduk Rumania.

Cara klasik yang paling banyak digunakan adalah menemukan kekuatan-kekuatan oposisi di negara tertentu. Kemudian mentraining mereka, melakukan penyusupan, dan terakhir menciptakan momentum adu domba yang biasanya mengorbankan terlebih dahulu rakyat sipil.

Apakah betul akhirnya pengubahan rejim yang dicap otoriter oleh barat akan mengubah Rumania menjadi negara adil-makmur, ternyata tidak. Bahkan yang lebih mengenaskan, mereka justru terpuruk sebagaimana laporan Euractiv yang menyatakan bahwa Rumania saat ini merupakan negara termiskin di Eropa. Menurut harian Financiarul, Rumania bahkan mengalami degradasi kualitas hidup yang paling menyedihkan semenjak dua dekade terakhir ini.

Para pejabat intelijen Barat yang diwawancarai dalam film dokumenter itu juga mengungkapkan bagaimana pers Barat memainkan peran sentral dalam disinformasi. Sebagai contoh, korban penembak jitu yang didukung Barat itu difoto dan disajikan kepada dunia sebagai bukti dari kegilaan seorang diktator gila yang “membunuh orang-orangnya sendiri”.

Kalau anda berkunjung ke Rumania, ada Museum di jalan-jalan belakang Timisoara Rumania yang mempromosikan mitos “Revolusi Rumania”. Tetapi, Film dokumenter Arte telah berhasil mengungkapkan beberapa rahasia gelap demokrasi liberal Barat.
 

Rusia

Pada masa kontra-revolusi terhadap Boris Yeltsin di Rusia pada tahun 1993, ketika parlemen Rusia dibom yang mengakibatkan kematian ribuan orang, Yeltsin kontra-revolusioner membuat ekstensif menggunakan penembak jitu. Menurut laporan saksi mata banyak, penembak jitu berpakaian sipil menembak dari gedung seberang kedutaan besar AS di Moskow. Para penembak jitu itu dikaitkan dengan pemerintah Soviet oleh media internasional. Padahal bukti intelejen menunjukkan bahwa mereka adalah Death Squad yang beretnik eropa, sangat asing dimata para pemimpin intelejen Uni Sovyet dan tanpa identitas.
 

Venezuela

Pada tahun 2002, CIA berusaha menggulingkan Hugo Chavez, presiden Venezuela, dalam sebuah kudeta militer. Pada tanggal 11 April 2002, oposisi yang didukung AS berbaris menuju istana presiden. Penembak jitu telah disiapkan secara tersembunyi di gedung-gedung dekat istana, dan langsung menembaki demonstran dan berhasil membunuh 18 orang diantaranya. Media Venezuela dan internasional menyatakan bahwa Chavez telah “membunuh rakyatnya sendiri”. Hal ini digunakan untuk membenarkan kudeta militer dan represi Barat yang menggunakan slogan intervensi atas nama kemanusiaan. Setelah intervensi tersebut gagal, beberapa waktu kemudian terbukti bahwa rencana kudeta telah diorganisir oleh CIA tetapi identitas penembak jitu tidak pernah teridentifikasi sampai sekarang.
 

Thailand

Pada 12 April 2010, Christian Science Monitor menerbitkan sebuah laporan rinci dari kerusuhan di Thailand antara “kelompok baju merah” dengan pemerintah Thailand.

Sangat mirip dengan skenario yang terjadi di Tunisia, kaos merah Thailand yang menyerukan pengunduran diri perdana menteri Thailand. Media Barat melakukan pengulangan terus menerus dari gambar ketika tentara pemerintah sedang menembak. Dilaporkan 21 orang tewas sedangkan 800 orang terluka.

Laporan CSM menemukan bukti dan saksi dari para pejabat militer Thailand dan diplomat Barat yang tak disebutkan namanya:

Pengamat militer mengatakan tentara Thailand tersandung ke dalam perangkap yang telah dipasang oleh agen-agen provokator dengan keahlian militer. Dengan mendesak tentara agar menjadi gelap mata dan memicu pertempuran dengan para pengunjuk rasa. Korban tewas dan luka-luka terjadi di kedua belah pihak.

Beberapa bukti yang tertangkap kamera dan dilihat oleh wartawan. Penembak jitu tak dikenal ada diantara gedung bertingkat, dan dari merekalah tembakan pertama kali terdengar. Hal inilah yang menimbulkan chaos dan mengakibatkan pertempuran brutal di kedua belah pihak.

Artikel CSM membuktikan adanya kemungkinan besar bahwa elit kelompok kaos merah didanai oleh George Soros Connections.

 
Kirgistan

Kekerasan etnis pecah di republik Asia Tengah Kirgistan pada bulan Juni 2010. Secara luas dilaporkan bahwa penembak jitu tak dikenal melepaskan tembakan pada anggota minoritas Uzbek di Kirgistan.

Eurasia.net melaporkan:

Banyak penduduk Uzbekistan yang melihat gerakan mencurigakan dari orang-orang bersenjata modern tak dikenal, di lingkungan mereka sebelum bentrokan berdarah terjadi. Mereka semua bukanlah etnik Uzbek dan belum pernah mereka temui sebelumnya. Bahkan Niyazov Arygali, misalnya, bersaksi telah melihat pria asing bersenjata di lantai atas asrama di lembaga medis tempatnya menginap. Para pria asing miterius itulah yang menembakkan senjata pertama kali dan segera menghilang setelah korban berjatuhan yang menimbulkan bentrokan berdarah yang mengerikan di Kirgystan.Banyak orang di lingkungan Uzbekistan lain menceritakan kisah-kisah serupa.

Teknik lainnya yang digunakan oleh agen Barat adalah menciptakan rumor bahwa pasokan air ke wilayah Uzbekistan hendak diracuni. Rumor tersebut sama persis dengan rumor yang mengakibatkan tergulingnya rezim Ceaucescu di Rumania selama kudeta yang didukung CIA pada tahun 1989.

Eurasia.net melanjutkan dengan menyatakan bahwa:

Banyak orang yang meyakini bahwa mereka telah melihat dengan mata kepala sendiri adanya tentara bayaran asing yang bertindak sebagai penembak jitu. Mereka semua bukanlah etnik Uzbek, tetapi ada diantaranya yang berkulit hitam, dan beretnik Baltik. Bahkan laporan intelejen Most Classified yang bocor ke salah satu media menyebutkan adanya keterlibatan para sniper Inggris di puncak-puncak gedung di daerah Osh. Banyak diantara mereka yang menyamar sebagai wartawan asing atau perwakilan organisasi internasional.

Pada 6 Agustus 2008, surat kabar Rusia Kommersant melaporkan bahwa ditemukan senjata paling modern AS yang umumnya digunakan oleh sniper elit pasukan khusus Amerika di sebuah rumah di ibukota Kirgistan Bishkek, yang sedang disewa oleh dua warga negara Amerika. Kedutaan AS menyatakan senjata tersebut digunakan untuk latihan “anti-terorisme”. Namun, ini tidak dikonfirmasi oleh otoritas Kirgistan.

Setelah terjadinya bentrokan berdarah di Bishek, kemudian pihak Amerika bersikeras perlunya kehadiran AS dan NATO di negara itu untuk membantu “melindungi” minoritas Uzbekistan. Kehadiran mereka kemudian disahkan oleh PBB.

Media Barat-pun kemudian melakukan berbagai berita menyesatkan untuk melegitimasi kehadiran tentara AS-NATO di Kirgystan. Bahkan New York Times pun melakukan hal yang serupa dengan menerbitkan headline yang menyatakan bahwa Rakyat Kirgistan meminta Badan Keamanan Eropa untuk lelindungi mereka dari represi pihak militer pemerintah. Hal ini sangat bertentangan dengan laporan aktual pihak independen yang menyatakan bahwa:

Tidak ada bukti adanya permintaan rakyat Kirgystan pada intervensi militer Barat. Bahkan, artikel pada laporan pihak independen tersebut menyajikan banyak bukti yang sebaliknya. Namun, sebelum pembaca memiliki kesempatan untuk membaca penjelasan dari pemerintah Kyrgyzstan, New York Times, menyajikan narasi yang terlalu mengerikan tentang cerita masyarakat tertindas yang memohon Barat untuk datang dan membom atau menduduki negara mereka. Hanya menjelang akhir artikel kita menemukan bahwa otoritas Kyrgyzstan menyalahkan diktator yang didukung AS untuk mengobarkan kekerasan etnis di negara itu, melalui pengfunaan jihadis Islam di Uzbekistan.

Kebijakan menggunakan ketegangan etnis untuk menciptakan lingkungan rasa takut dalam rangka untuk menopang kediktatoran yang sangat tidak populer, kebijakan menggunakan Jihad Islam sebagai alat politik untuk menghindar dari kasus yang sebenarnya. Mantan Penasehat Keamanan Nasional AS Zbigniew Bzrezinski menyebut teknik intelejen ini dengan nama sandi “busur krisis”, yang membuktikan sejarah keterlibatan AS di Asia Tengah dimulai dari penciptaan Al Qaeda di Afghanistan pada tahun 1978 sampai sekarang.

 
Tunisia

Pada 16 Januari 2011, CNN melaporkan bahwa telah terjadi bentrokan hebat antara gerombolan bersenjata dengan pasukan keamanan Tunisia. Banyak terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh “penembak tidak dikenal”. Ada juga video yang diposting di internet menunjukkan sniper warga negara Swedia ditahan oleh pasukan keamanan Tunisia. Para pria bersenjata yang ditangkap jelas menggunakan senapan sniper yang belum pernah dimiliki oleh elit pasukan sniper Tunisia sekalipun. Russia Today menyiarkan gambar-gambar dramatis tersebut.

Meskipun artikel Michel Chossudovsky oleh profesor, William Engdahl dan yang lain memperlihatkan bagaimana pemberontakan di Afrika Utara mengikuti pola AS lebih banyak didukung kekuatan kudeta bersenjata daripada revolusi damai, tetapi dunia telah terpola pikirannya bahwa pihak pemerintahlah yang salah, sementara pihak gerombolan bersenjata yang melakukan kudeta adalah pihak yang tertindas dan patut didukung dunia Internasional.

 
Mesir

Pada 20 Oktober 2011, surat kabar Telegraph menerbitkan sebuah artikel berjudul, “Saudara kita mati untuk Mesir yang lebih baik”. Menurut Telegraph, Mina Daniel, seorang aktivis anti-pemerintah di Kairo, telah ‘ditembak mati oleh penembak jitu tak dikenal “. Anehnya, artikel ini tidak lagi tersedia di situs web Telegraph kalau kita coba cari secara online.

Pada 6 Februari Al Jazeera melaporkan bahwa wartawan Mesir, Mahmoud Ahmad, ditembak oleh penembak jitu saat ia berusaha untuk meliput bentrokan antara pasukan keamanan Mesir dan demonstran. Mengacu pada pernyataan yang dibuat oleh istri Mahmoud, Enas Abdel-Alim, Al Jazeera tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu langsung merilis berita yang menyatakan bahwa Mahmoud telah dibunuh oleh pasukan keamanan Mesir.

Abdel-Alim dan beberapa saksi lainnya mengatakan seorang kapten polisi berseragam dengan komanda pasukan keamanan Mesir sedang memerintahkan agar suaminya berhenti meliput. Tetapi saat Mahmoud sedang akan mematikan videonya, tiba-tiba seorang penembak jitu tak berseragam menembaknya dari atap gedung.

Anehnya, Al Jazeera tiba-tiba berteori bahwa para sniper adalah agen-agen rezim Mubarak. Al Jazeera, stasiun televisi Qatar milik Emir Khalifa Bin Hamid Al Thani, memainkan peran kunci dalam demonstrasi berdarah yang memprovokasi para demonstran di Tunisia dan Mesir sebelum meluncurkan kampanye pro-NATO selama kehancuran Libya.

Banyak orang tewas selama revolusi yang didukung AS di Mesir. Meskipun, pembunuhan telah dikaitkan dengan Hosni Mubarak, keterlibatan intelijen Barat tidak dapat dikesampingkan. Namun, dari mana asal penembak jitu yang memicu demonstrasi berdarah tidak diketahui sampai dengan saat ini kecuali klaim sepihak dari Aljazeera yang menyatakan bahwa merika adalah pasukan elit Mesir.

 
Libya

Pada tahun 2011, selama destabilisasi Libya, sebuah video disiarkan oleh Al Jazeera menunjukkan demonstrasi damai “pro-demokrasi” sedang ditembaki oleh “pasukan Gaddafi”. Video ini diedit untuk meyakinkan pemirsa bahwa demonstran anti-Gaddafi sedang dibunuh oleh pasukan kdamanan. Namun, versi sebelum diedit dari Youtube. Ini jelas menunjukkan bukti bahwa justru demonstran pro-Gaddafi dengan bendera Hijau yang pada mulanya sedang ditembaki oleh penembak jitu tak dikenal. Atribusi dari NATO tentang kejahatan terkait dengan pasukan keamanan Libya Jamahirya adalah fitur konstan dari perang media brutal yang dilancarkan terhadap rakyat Libya.

 
Suriah

Pada tahun 2011, orang-orang Suriah juga telah dijebak oleh penembak jitu tak dikenal sejak pecahnya kekerasan di Sanaa pada bulan Maret. Korban yang ditembak oleh para penembak jitu justru awalnya adalah korban dari 4 orang pihak polisi dan berikutnya 3 orang pihak demonstran. Dampaknya, ratusan tentara Suriah dan personil keamanan telah dibunuh, disiksa dan dimutilasi oleh militan bersenjata. Namun media internasional terus menyebarkan kebohongan yang menyedihkan bahwa kematian personil militer merupakan korban sipil yang direpresi oleh pasukan keamanan pendukung kediktatoran Bashar Al Assad.

Beberapa saksi dari Hama banyak yang mengatakan bahwa mereka telah melihat gerakan pasukan asing bersenjata yang berkeliaran di sekitar kota dalam kelompok-kelompok kecil.

Beberapa hari kemudian, televisi Al Jazeera menunjukkan adegan tentara Suriah memukuli dan menyiksa demonstran. Banyak berita kejahatan yang langsung dikaitkan dengan tentara Suriah yang sebenarnya dilakukan oleh geng-geng bersenjata, seperti pembuangan mayat dimutilasi ke sungai di Hama, tetapi media barat menyebutnya sebagai bukti pembunuhan rakyat sipil tak bersenjata oleh rezim Assad. Padahal sesudahnya terbukti bahwa para korban adalah anggota pasukan keamanan dan polisi Suriah.

Lucunya setelah terbukti bahwa para korban adalah tentara dan polisi Suriah, Media Barat dan Aljazeera langsung berbalik arah dengan memberitakan bahwa para korban adalah anggota polisi dan tentara xang membelot dan melawan rejim Asaad.

Media Barat dan Al Jazeera selalu menunjukkan betapa demonstrasi anti Asaad begitu telah menguasai sebagian besar rakyat Suriah, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa kebanyakan orang di Suriah mendukung pemerintah. Suriah memiliki akses ke semua situs web internet dan saluran TV internasional. Mereka dapat menonton BBC, CNN, Al Jazeera, membaca theNew York Times online atau Le Monde sebelum tuning ke media dalam negeri mereka. Rakyat Suriah mampu membedakan berita mana yang telah difabrikasi oleh Barat dan berita mana yang benar-benar menunjukkan kenyataan yang terjadi di lapangan. Itulah sebabnya demonstran pendukung Asaad bisa dimobilisir sedemikian besar jumlahnya dalam waktu yang amat singkat.

Kesimpulan

Penggunaan tentara bayaran, Death Squad dan penembak jitu oleh badan-badan intelijen Barat didokumentasikan dengan baik, dan tak terbantahkan. Tetapi, hampir tidak ada satupun media dunia yang berani menceritakannya. Kita semua selama ini telah dibodohi dan tidak pernah melakukan satu usaha apapun untuk mencoba membongkar semua jaringan ini. Semuanya mengamini dan terlalu gegabah menganggap begitu suci gerakan atas nama humanisme dan demokrasi mereka. Mulai dari Rumania, sampai dengan terakhir Libya, jelas terbukti adanya keterlibatan langsung mereka. Banyak berserakan bukti di media internet yang bisa kita ambil dan kita maknai serta sikapi dengan jernih kejadian yang sebenarnya. Entah mengapa dunia seolah bungkam dan tidak ambil perduli. "Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh".



Tidak ada komentar:

Posting Komentar