Rabu, 15 Februari 2012

Asakusa, Bekas Daerah Lampu Merah yang Menyenangkan


Oleh Syanne Susita

Tempat pertama yang saya datangi begitu mendarat di Tokyo adalah Asakusa. Terletak dekat sungai Sumida, saya yakin akan banyak lokasi menarik yang bisa dilihat. Dari bandara, saya naik kereta ke Ueno dan kemudian menyambung lagi dengan kereta bawah tanah jalur Yamanote, menuju stasiun Asakusa.



Sebagai bekas daerah lampu merah di zaman Edo (sebutan Tokyo jaman dulu), kabarnya beberapa tempat hiburan di Asakusa masih melestarikan geisha sebagai pelayan para tamu. Juga sebagai daerah pusat hiburan, di sekitar Asakusa banyak ditemui teater kabuki dan rumah penginapan (ryokan) dengan harga terjangkau. Khaosan-Tokyo, losmen andalan para turis ransel, juga terletak di daerah ini.

Penginapan ini selalu menjadi andalan saya setiap kali berlibur ke Tokyo. Memesan tempat ini sebaiknya dari jauh-jauh hari karena sering penuh. Namun, kalaupun tidak dapat, tidak usah terlalu panik karena banyak penginapan sejenis dengan harga yang beda-beda tipis dengan Khaosan-Tokyo sebagai alternatifnya.



Bila sedang sial, keluar dari salah satu pintu stasiun kereta bawah tanah, terdapat hotel kapsul. Di Asakusa Riverside Capsule Hotel ini, enaknya terdapat satu blok yang dikhususkan untuk perempuan.

Buat yang ingin sedikit “bertualang” mencoba gaya hidup setempat, tidak ada salahnya mencoba menginap hotel kapsul. Sebenarnya, dibanding kamar yang dibagi banyak orang di losmen turis ransel, menginap di hotel kapsul lebih nyaman dan punya lebih banyak privasi.

Seperti fasilitas hotel, yang menginap di situ, tidak perlu membawa handuk, peralatan mandi sendiri karena sudah disiapkan. Tempat tidurnya pun lebih empuk dan hangat. Di dalam kamar kapsul yang mungil itu juga tersedia televisi di dalam.

Kalau ingin melepaskan penat, hotel kapsul ini juga menyediakan rumah mandi yang lengkap dengan fasilitas sauna dan kolam air panas. Yang membedakan dengan hotel ya, kamarnya yang super mungil. Kalau membawa koper besar, tidak perlu bingung juga karena disediakan loker. Jika kopernya ukuran masuk kabin, simpan di kapsul pun masih cukup sebenarnya.



Daerah Asakusa juga memang masih menyimpan banyak bangunan tua yang menarik untuk dikunjungi. Yang paling terkenal adalah kuil Sensoji, salah satu kuil tertua dan terbesar di Tokyo. Kuil ini dibangun abad ketujuh, namun hancur saat Perang Dunia dan dikonstruksi ulang beberapa tahun setelah perang selesai. Lokasi kuil ini tidak jauh dari stasiun. Cukup berjalan kaki sekitar 500 meter, kuil ini pasti ditemukan.

Di depan pintu gerbang yang disebut Kaminarimon, saya dibuat takjub dengan lampion merah berukuran super besar. Di samping kiri kanan lampion besar itu, terdapat patung yang dipercaya merupakan dewa petir dan angin. Setelah melewati pintu gerbang ini, jejeran toko cendera mata dan cemilan langsung menyambut. Jejeran toko ini terletak di jalan yang hanya berbentang sekitar 250 meter ini dikenal dengan jalan Nakamise.



Salah satu toko kue camilan di sini dengan antrian paling panjang. Saya sempat penasaran. Akhirnya saya ikut mengantre. Jika melihat dari foto-foto yang dipajang di dinding toko, sepertinya setiap kali orang penting seperti pangeran Jepang berkunjung ke kuil ini, pasti menyempatkan mampir ke toko ini.

Cemilan atau lebih tepatnya bisa dibilang gorengan ala Jepang ini memang enak. Terbuat dari tumbukan kacang merah atau hijau yang kemudian digoreng dan ditaburi berbagai bibit seperti wijen. Dimakan panas-panas, cemilan ini menjadi salah satu cemilan yang membuat ketagihan. Saking senangnya, saya sempat bela-belain membungkus beberapa untuk dibawa pulang kampung.

Setelah jalan Nakamise, kuil Sensoji segera terlihat. Di depan kuil, ada gerbang utama Hozomon yang menampilkan simpulan tali super besar. Di sisi kiri, terdapat pancuran dimana semua orang sebelum masuk ke kuil membersihkan muka dan meminum air di situ. Di samping kuil, masih ada juga beberapa bangunan kuil yang ukurannya sama besarnya dengan Sensoji. Di sebelah kiri Sensoji, ada pagoda dengan desain atap yang paling menarik perhatian, yaitu Gojunoto.



Selain menikmati keindahan detail arsitek kuil dan menyaksikan salah satu ritual beribadah penduduk Jepang, jika beruntung, pada hari-hari tertentu sering terdapat beberapa festival atau biasa disebut matsuri. Walau tidak sebesar Sanjamatsuri, saya sempat menangkap festival kecil yang diadakan di Asakusa ketika mengunjungi di musim panas.

Saat festival tersebut hampir di sekeliling kuil dipenuhi dengan kios berjualan bunga berwarna oranye yang terus terang baru saya lihat. Bunga ini kabarnya bisa bagus untuk kebersihan tubuh wanita. Selain itu, Asakusa pun berubah menjadi surga kuliner makanan jalanan. Yang menakjubkan adalah betapa sesaknya jalanan dan gank di sekitar kuil malam itu.

Jika malas berkeliling di sekitar Asakura dengan berjalan kaki, bisa menggunakan transportasi alternatif , yaitu mencoba becak yang ditarik langsung oleh orang, tidak dengan sepeda. Yang unik adalah semua penarik becak ini menggunakan kimono pendek hitam, celana pendek hitam, dan sepatu hitam.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah  mencoba jinriksha ini tidaklah murah dan harus berani sedikit menawar. Saya sempet ngeper untuk menawar karena kesulitan bahasa. Untung ada kalkulator di telepon genggam dan berhasil keliling Asakusa dengan becak khas Jepang ini dengan harga 3500 yen (Rp 350 ribu). Mahal sih, karena keliling-kelingnya tidaklah terlalu lama (sekitar setengah jam saja) sebenarnya tetapi demi sebuah satu pengalaman, ya, sekali-kali saja, saya rela.



Menyusuri belakang kuil, terlihat banyak sekali teater kabuki dengan bentuk arsitektur kuno dan hiasan bunga warna-warni digantung di bagian depan teater. Selain itu, jejeran teater kabuki, saya juga melewati taman hiburan dan jalan yang dikenal memiliki maskot rakun. Hampir di setiap sudut terdapat patung rakun perak. Bahkan di satu sudut terdapat pagoda kecil khusus untuk memberi penghargaan pada binatang ini. Di toko cendera mata di jalan ini juga berjejeran patung-patung rakun dengan desain yang lucu.



Ingin rasanya menepuk si penarik becak ini untuk berhenti sejenak agar saya bisa membeli cendera mata yang lucu itu. Tapi, apa daya, walau ditarik dengan tenaga manusia, becak saya ini berjalan kencang membuat saya malas untuk berhenti dan memilih menikmati suasana saja dari tempat duduk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar