Sabtu, 01 September 2012

10 Pesepak Bola Muda Termahal

10 Petinggi Nazi yang Dihukum Gantung

Dari 24 orang paling penting Nazi Jerman yang tertangkap, 10 diantaranya benar-benar menjalani keputusan pengadilan penjahat perang  dan pengadilan militer Nurenberg, yaitu vonis hukuman mati. Persidangan tersebut berlangsung dari 20 November 1945 – 1 Oktober 1946, guna mengadili para anggota-anggota utama dari kelompok pemimpin politik, militer dan ekonomi dari Nazi Jerman. Rangkaian persidangan ini dilakukan di kota Nurnberg, Jerman, dari tahun 1945 sampai 1946, di gedung Pengadilan Nurnberg (Nuremberg Palace of Justice). Berikut 10 petinggi Nazi yang dijatuhi vonis mati:

1. Hans Frank 

Hans Frank adalah pengacara untuk partai Nazi selama 1920-an dan pejabat senior di Jerman Nazi. Karena masa jabatannya sebagai Gubernur Jenderal di Daerah Pendudukan Polandia, ia dituntut dalam pengadilan Nurnberg untuk perannya dalam melaksanakan Holocaust, bersalah atas pembunuhan orang Polandia dan Yahudi Polandia, dan dieksekusi gantung pada 16 Oktober 1946. Ia ditangkap oleh Pasukan Amerika Serikat pada 4 Mei 1945, didakwa ke pengadilan sebelum Pengadilan Militer Internasional di Nuernberg.

2. Wilhelm Frick

Dr. Wilhelm Frick menjabat sebagai Mendagri Reich dan Reichsprotektor Bohemia dan Moravia. Setelah Nazi menduduki. Frick diangkat sebagai Mendagri Reich, sebuah kedudukan yang dipegangnya hingga Agustus 1943. Pelatihannya sebagai juri dimanfaatkan untuk membuat pengesahan yang menyingkirkan bangsa Yahudi dari kehidupan umum, menghapuskan parpol, dan mengirimkan para pembangkang ke kamp konsentrasi. Setelah membantu Adolf Hitler untuk mengkonsolidasikan kekuatan, Frick mulai kehilangan pengaruh. Pada tahun 1943, ia diangkat sebagai Reichsprotektor untuk Bohemia dan Moravia, namun otoritas sesungguhnya di protektorat itu ada di tangan bawahannya Karl Hermann Frank.
Setelah perang, Frick diadili sebelumnya oleh Pengadilan Militer Internasional di Nürnberg. Menyusul pendakwaannya, ia dihukum gantung pada tanggal 16 Oktober 1945 di Nurnberg.

3. Ernst Kaltenbrunner

Ernst Kaltenbrunner adalah seorang pejabat Nazi bawahan Reinhard Heydrich - jenderal SS yang terbunuh akibat serangan di Praha, Cekoslowakia pada tahun 1942, selama Perang Dunia II - yang lalu digantikannya sebagai ketua RSHA, organisasi bawahan SS, yang terbentuk lewat penggabungan SDdengan Geheime Staatspolizei di masa Reich Ketiga. Setelah berakhirnya perang pada tahun 1945 ia diadili di Nürnberg untuk kejahatan terhadap kemanusiaan. Ia dijatuhi hukuman gantung pada tahun 1946.

4. Wilhelm Keitel 

Wilhelm Bodewin Johann Gustav Keitel adalah panglima tertinggi Jerman dan pemimpin militer senior selama Perang Dunia II untuk Hitler. Kepala Wehrmacht - OKW. Menandatangani penyerahan Jerman di Berlin pada tanggal 8 Mei 1945. Didakwa atas kejahatan perang dalam Pengadilan Nürnberg dan digantung.

5. Joachim von Ribbentrop 
 
Ulrich Friedrich Wilhelm Joachim von Ribbentrop (lahir 30 April 1893 – meninggal 16 Oktober 1946 pada umur 53 tahun) ialah Menteri Luar Negeri Jerman dari 1938 sampai 1945. Ia dihukum mati dengan hukuman gantung karena kejahatan perang setelah Peradilan Nurnberg.

6. Fritz Sauckel

Ernst Friedrich Christoph Sauckel lebih dikenal dengan Fritz Sauckel, adalah seorang penjahat perang Nazi yang mengorganisasi perbudakan sistematis atas jutaan lelaki dan kanak-kanak di negeri-negeri yang diduduki oleh Jerman Nazi. Ia adalah jenderal yang amat berkuasa dalam urusan buruh sejak 1942 hingga akhir perang.
Saukel bertanggung jawab untuk memobilisasi buruh Jerman dan asing untuk komplek industri militer di Reich Ketiga Hitler. Sauckel memerintahkan para budak itu dieksploitasi “sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya”. Ia bertanggung jawab untuk kematian ribuan buruh Yahudi di Polandia.
Di Pengadilan Nurnberg, ia bersikeras bahwa ia tak bersalah atas kejahatan apapun dan tak tau apa-apa tentang kamp konsentrasi. Namun Sauckel dituntut atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Ia mati dengan hukuman gantung.

7. Arthur Seyss-Inquart

Arthur Seyss-Inquart ialah Gubernur Reich di Austria, Wakil Gubernur Jenderal Hans Frank dalam Pemerintahan Umum Daerah Pendudukan Polandia dan Reichskommissar untuk Belanda yang saat itu diduduki Jerman. Pada 1940 Seyss-Inquart menjadi Reichskommissar untuk Belanda yang saat itu diduduki Jerman. Setelah perang usai, didakwa oleh Pengadilan Militer Internasional Nuremberg dan dieksekusi di penjara Nurnberg pada 1946.

8. Alfred Rosenberg

Alfred Rosenberg adalah anggota awal dan intelektual berpengaruh dari Partai Nazi. Rosenberg pertama kali diperkenalkan ke Adolf Hitler oleh Dietrich Eckart, ia kemudian memegang jabatan penting di pemerintah Nazi. Ia dianggap salah satu penulis utama dari ideologi Nazi, termasuk teori rasnya, penganiayaan terhadap orang Yahudi, Lebensraum, pembatalan Perjanjian Versailles, dan oposisi untuk “merosot” seni modern. Ia juga dikenal karena penolakannya terhadap kekristenan, memainkan peran penting dalam pengembangan Kristen Positif, yang dimaksudkan untuk transisi untuk suatu iman Nazi baru. Di Nuremberg ia diadili, dihukum mati dan dieksekusi dengan digantung sebagai penjahat perang.

9. Alfred Jodl

Alfred Jodl Josef Ferdinand adalah seorang komandan militer Jerman, mencapai posisi Kepala Staf Komando Operasi Angkatan Bersenjata Tinggi (Oberkommando der Wehrmacht, atau OKW) selama Perang Dunia II, bertindak sebagai wakil untuk Wilhelm Keitel. Di Nuremberg ia diadili, dihukum mati dan digantung sebagai penjahat perang.

10. Julius Streicher

Julius Streicher adalah seorang Nazi terkemuka sebelum Perang Dunia II. Dia adalah pendiri dan penerbit surat kabar Der Stürmer, yang menjadi elemen sentral dari mesin propaganda Nazi. Perusahaan penerbitan-Nya juga merilis tiga buku anti-Semit untuk anak-anak, termasuk Der Giftpilz 1938 (“The kulat” atau “The Poison-Jamur”), salah satu bagian paling luas dari propaganda, yang diakui untuk memperingatkan tentang bahaya Yahudi yang ditimbulkan dengan menggunakan metafora dari sebuah jamur yang menarik namun mematikan. Setelah perang, ia didakwa atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan dieksekusi.

10 Suku Adat di Dunia yang Telah Punah

Berbagai cara dan teori yang menyebutkan kepunahan suatu etnis dan suku bangsa yang ada di bumi ini. Mulai dari wabah penyakit seperti tuberkolosis (tb) , diare, cacar ataupun hingga sebuah peperangan antar suku, antar kepentingan dan sebagainnya yang menjadi faktor penyebab kemusnahan suatu suku bangsa di bumi ini. Sehingga beberapa suku adat di bumi ini beberapa menghadapi titik kritis dan hampir punah. Berikut 10 suku adat di dunia yang telah punah

1. Suku Beothuk

Suku Beothuk ini memiliki perawakan gela dan tinggi, mereka memiliki rambut berwarna hitam dengan bola mata cokelat. Mereka telah hidup selama ribuan tahun sebelum bangsa Viking, dan mendiami kawasan Newfoundland, Kanada. Namun ketika bangsa Eropa yang dipimpin oleh John Cabot banyak berdatangan ke Newfoundland, dan mengeksploitasi kawasan hutan dan perikanan. Suku Beothuk kemudian tersisihkan dan dipaksa keluar dari kawasan aslinya. Rasa takut terhadap bangsa Eropa, tuberkolosis dan malnutrisi membuat populasi mereka semakin berkuran di tahun 1700. Bahkan pada 1829, tidak ditemukan adanya Suku Beothuk di kawasan Newfoundland.

2. Suku Karankawa

Ada banyak kelompok suku asli di daratan Amerika, salah satunya Suku Karankawa yang memiliki catatan menyedihkan di dalam sejarah Texan. Mereka menghilang dari peradaban Amerika akibat wabah penyakit, berperang dengan bangsa Eropa dan kehilangan wilayah kekuasaannya. Padalahal mereka memiliki andil yang sangat besar di dalam peperangan Kemerdekaan Texas, mereka bahkan lebih memihak Amerika Serikat dibandingkan kepada pihak Meksiko.

3. Suku Mandan

Cacar air, peperangan dan perlakuan yang buruk dari pemerintah Amerika Serikat membuat Suku Mandan ini punah. Pada 1837, populasi mereka menurun karena akibat serangan wabah cacar air, hanya menyisakan 125 orang saja. Pada 1934, Suku Mandan bersatu dengan dua suku Indian lainnya dalam sebuah aksi untuk melindungi kepentingan dan hak mereka. Orang Suku Mandan murni terakhir meninggal pada 1971.

4. Suku Chisca

Suku Chischa mendiami antara kawasan bagian timur Tennessee dengan bagian barat daya Virginia. Ketika terjadi sebuah peperangan melawan bangsa Eropa yang dipimpin oleh Hernando deSoto, mereka berhasil meraih kemenangan. Namun mereka pun harus merasakan pahitnya kekalahan atas pasukan Eropa yang dipimpin oleh Juan Pardo dari Spanyol. Di akhir 19700’an mereka bergabung dengan Suku Shawnee untuk menjadi suku baru bernama Chaskepe. Pada abad ke – 18, Suku Chisca punah akibat peperangan dan kota mereka dibakar oleh para penjajah.

5. Suku Hachaath

Sebelumnya suku ini tinggal di kawasan Pulau Vancouver dan Barcland, Suku Hachaath merupakan bagian dari kelompok Suku Nootka. Akibat bersentuhan dengan bangsa Eropa dan terserang wabah cacar air, mereka pun dinyatakan punah.

6. Suku Bo

Peradaban Suku Bo, budaya dan bahasa telah ada di wilayah Suci Adaman India, sejak 65.000 tahun yang lalu. Namun suku, kebudayaan dan bahasanya kemudian punah di tahun 2010 ketika orang terakhir Suku Bo, Boa Senior meninggal dunia.

7. Suku Aborigin Tasmani

Sebuah peperangan terjadi pada 1828 hingga 1832 antara kolonial Inggris dengan Suku Aborgin Tasmania. Peperangan tersebut pun berdampak fatal terhadap keberadaan Suku Aborigin Tasmania, bahkan bukan itu saja orang-orang Suka Aborigin Tasmania pun terserang sebuah wabah penyakit sehingga mereka pun tidak luput dari kepunahan.

8. Suku Ona

Ona merupakan bagian dari suku penjelajah, yang ditemukan di kawasan Chili dan Argentina. Meskipun mereka memiliki kedekatan dengan suku penjelajah, jumlah populasi mereka kemudian menurun pada awal 1900’an. Mereka kemudian punah di pertengahan abad ke – 20,

9. Suku Tainos

Sebuah suku yang mendiami Kepulauan Bahama, namun keberadaan mereka terusik bahkan tersingkir akibat kedatangan bangsa Eropa, pedagang dan para pencari kekayaan alam. Bahkan pada abad ke – 18 mereka terserang oleh wabah cacar. Namun tidak semua Suku Tainos lenyap, terutama perempuannya yang banyak dijadikan isteri oleh para lelaki Spanyol, turunan mereka dikenal dengan istilah mestizos (campuran).

10. Suku Powhatan

Suku Powhatans merupakan salah satu suku yang terdapat di kawasan Virginia, Amerika. Mereka memiliki bahasa yang dikenal dengan sebutan bahasa Algonquin Powhatan dan Virginia Algonquin. Banyak para anggotanya yang meninggal dan sat ini hanya meninggalkan delapan orang saja.

10 Pemain Bintang yang Gagal di Klub Barunya

Kaka yang dibeli Real Madrid dengan harga sangat mahal dari AC Milan, kini bernasib tak menentu. Di Los Blancos bintangnya redup, bahkan tidak masuk dalam rencana masa depan Jose Mourinho.
Padahal bintang asal Brasil itu harus mengambil keputusan berat ketika meninggalkan AC Milan pada 2009 lalu. Namun dalam kisah sepak bola, dia bukan satu-satunya bintang yang gagal bersinar di klub baru. Inilah 10 di antaranya:

1. Kaka

Penyerang bernama asli Ricardo Izecson dos Santos Leite ini begitu bersinar saat bermain di klub AC Milan. Bersama klub Italia itu, Kaka berhasil menyabet penghargaan  Ballon d'Or dan FIFA World Player of the Year pada 2007. Madrid pun memboyongnya dengan harga 65 juta euro untuk enam tahun kontrak. Sayangnya setelah sempat cedera pada 2010, karirnya langsung redup.

2. Klaas-Jan Huntelaar

Bintang asal Belanda ini bersinar saat bermain bersama Ajax Amsterdam, yang merekrutnya pada 2006. Dari total 47 pertandingan bersama Ajax, Huntelaar mampu melesakkan 44 gol. Namun kapten Ajax itu gagal bersinar di Real Madrid (2008-2009) dan AC Milan (2009-2010). Kini, Huntelaar bergabung dengan Shalke 04, klub asal Jerman.

3. Juan Sebastian Veron

Manchester United berharap besar terhadap playmaker asal Argentina ini saat direkrut dari Lazio, klub asal Italia, dengan harga 28,1 juta poundsterling pada 2001. Tapi sungguh tragis, bintang pemain berkepala plontos ini langsung redup dan dijual ke Chelsea, dua tahun kemudian. Baru setahun di klub biru-biru, Veron dipinjamkan ke Inter Milan, kemudian ke Estudiantes.

4. Robinho

Robson de Souza, nama lengkap Robinho, menjadi bintang saat masih bergabung dengan Real Madrid, klub yang membelinya dari Santos, Brasil pada 2005. Sepanjang berlaga untuk Los Blancos, dia menjadi pencetak gol terbanyak untuk klub tersebut. Manchester City pun harus bayar 32,5 juta poundsterling untuk membawanya ke Inggris. Namun karirnya meredup, sampai akhirnya dijual rugi ke AC Milan dengan harga 15 juta poundsterling.

5. Diego Forlan

Pemain asal Uruguay ini mampu mencetak 37 gol saat bergabung dengan Independiente (1997-2001). Namun saat dibeli Manchester United, karirnya malah tidak bersinar. Tiga tahun (2001-2004) bergabung dengan Setan Merah, dia hanya mampu melesakkan 10 gol, setelah ditransfer seharga 6,9 juta poundsterling. Sir Alex Ferguson pun menjualnya ke Villarreal dengan harga murah, yaitu 2 juta poundsterling pada 2004. Ironisnya, kecemerlangannya muncul lagi, sampai Atletico Madrid bersedia membayar 21 juta euro untuk memboyongnya pada 2007.

6. Claudio Pizarro

Kemampuan mencetak gol dan kehebatan sundulan pemain asal Peru yang berlaga untuk Bayern Muenchen (2001-2007) ini harus mengakhiri kontraknya tanpa harga. Pizarro bertikai lantaran minta kenaikan gaji, namun ditolak oleh manajemen Muenchen. Akhirnya Chlesea menampung, tapi karirnya langsung redup. Sepanjang 2007-2009, dia hanya turun 21 kali dengan 2 gol.

7. Kleberson

Kleberson merupakan pemain tengah cemerlang saat bersama Atlético Paranaense di usianya yang 20 tahun. Tak aneh jika Luiz Felipe Scolari, pelatih Brasil, mengajaknya bergabung ke tim nasional untuk Piala Dunia 2002. Sepanjang kompetisi, penampilannya mengesankan Sir Alex Ferguson yang kemudian merekrutnya dengan harga 6,5 juta poundsterling untuk Manchester United. Dua musim di liga Inggris, 2003-2005, Kleberson hanya 20 kali dimainkan sebelum akhirnya dijual ke Besiktas, klub asal Turki dengan harga 2,95 juta euro.

8. Alfonso Pérez

Pemain kelahiran Getafe, Spanyol ini mengawali karir profesionanya di Real Madrid, yang kemudian direkrut oleh Real Betis. Sepanjang karirnya di klub tersebut, 1995-2000, dia mampu menciptakan 57 gol dari 152 pertandingan. Karirnya justru meredup saat di Barcelona, 2000-2002, yang hanya 20 kali menurunkannya dan melesakkan dua gol.

9. Andriy Shevchenko

Penyerang kelahiran Ukraina ini merupakan bintang kesayangan fans AC Milan. Sepanjang bermain untuk klub tersebut, penyerang yang dibeli dari Dynamo Kiev seharga 25 juta euro itu mampu menciptakan 127 gol dari 208 penampilannya. Permainan cemerlangnya membuat Chelsea berani membayar 75,2 juta euro pada 2005 untuk merekrutnya. Tapi pelan-pelan karirnya meredup. Selama tiga musim bergabung, Sheva hanya bermain 46 kali, sebelum akhirnya dipinjamkan ke Milan dan dijual ke klub asalnya, Dynamo Kiev.

10. Mauro Boselli

Pemain asal Argentina ini direkrut oleh Wigan Athletic pada 2010 dari Estudiantes dengan harga 6,5 juta poundsterling. Sayangnya, Liga Inggris seperti menjadi kuburan bagi Boselli yang disebut sebagai pemain asing terburuk di Wigan oleh penggemar klub itu. Baru delapan kali diturunkan, gelandang tengah ini dipinjamkan ke Genoa (Italia), dan kini di usianya yang 27 tahun, bermain untuk klub lamanya Estudiantes dengan status pinjaman.

10 Penulis yang Menarik Diri Dari Perhatian Publik

Para penulis dunia menggunakan kehebatan mereka untuk mengilustrasikan dan mengomentari berbagai kondisi yang dialami oleh masyarakat di sekitarnya. Dan tentu saja, ada hal-hal yang harus dipertimbangkan dan dipahami mengenai perasaan subyektif seorang manusia, karenanya  ada beberapa penulis yang menarik diri dari pergaulan dan perhatian publik. Reklusif, adalah kesukaan untuk menyendiri, enggan keluar dari tempat tinggal untuk bertemu dan berbicara dengan orang lain. Namun stereotip mengenai seorang penulis yang reklusif tidak selamanya berlaku, bagi beberapa penulis hebat reklusif, kesunyian hidup lebih memiliki daya tarik daripada menulis untuk mendapatkan penghargaan dan popularitas. Berikut 10 penulis reklusif hebat yang tercatat dalam sejarah sastra dunia:

1. Marcel Proust

Marcel Froust, adalah sosok pria yang dikenal baik di dalam lingkungan masyarakat Prancis di awal hidupnya, namun di pertangahan tahun 30’an sebuah tragedi mengejutkan kehidupannya. Ayahnya meninggal pada tahun 1903, berselang kemudian sang ibu pada tahun 1905, semenjak itu Froust mulai mengalami banyak gangguan kesehatan. Antara tahun 1909 dan sampai kematiannya di tahun 1922, ia menjadi seorang penulis yang reklusif, dan mengerjakan novelnya yang terkenal, Remembrance of Things Past, semenjak itu jarang sekali ia terlihat keluar dari rumahnya. Dalam tiga tahun terakhir di masa hidupnya, ia hampir menghabiskan semua waktunya berada di ruangan gelap dan kedap suara, untuk tidur dan menuliskan mahakarya terakhirnya.

2. Emily Dickinson

Emily Dickinson setidaknya telah menerbitkan kurang dari selusin dari 1.800 puisi yang ditulis semasa hidupnya. Ia pun dikenal sebagai penyair penyendiri, enggan bergaul, sehingga terkadang membuat hidupnya lebih sulit. Ia bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di luar rumah keluarganya hampir selama 20 tahun hidupnya, ia pun tidak menghadiri pemakaman sang ayah, dan ia hanya mendengarkan jalannya ritual dari jendela kamarnya. Baru setelah kematiannya di tahun 1886, karyanya yang hebat ditemukan. Melalui untaian kata dan kekuatan emosi menggebu-gebu di dalam bait-bait puisi, menggambarkan perasaan yang dimilikinya saat itu—dari puisinya tersebut tergambarkan bagaimana ia menjadi seorang yang reklusif.

3. Thomas Pynchon

Thomas Pynchon adalah seorang penulis yang paling reklusif di antara penulis reklusif lainnya, ia bahkan hampir saja tidak dikenali. Setelah menerbitkan karya novelnya yang pertama, “V’ tahun 1963, Pychon menyembunyikan dirinya dari kejaran pers dan publikasi. Bahkan hanya sedikit foto diri yang dimilikinya, dan ia menolak untuk menghadiri berbagai undangan acara—ia pun mengirimkan seorang wakil untuk mendatangi dan mengambil penghargaan yang diterimanya melalui novel kompleks, Gravity’s Rainbow, daripada harus beranjak dari kesendiriannya. Akibat ulahnya banyak orang yang meragukan identitas Pychon—bahkan ada yang menyebutkan bahwa ia adalah J.D Salinger, bahkan ia pun tidak mau tampil di depan sebuah kamera CNN yang sedang memfilmkan dirinya di Kota New York, tahun 1997. Namun demikian pada tahun 2004 Pcyhon tampil ke permukaan atas permintaan publik—ia pun mengisi suara karakternya sendiri, di dalam serial kartun The Simpsons. Dalam serial kartun yang mendunia tersebut, wajahnya pun terlihat tidak begitu jelas,–karakter film khas kartun.

4. J. D. Salinger

Kita kesampingkan ketenarannya sebagai penulis popular di abad 21, karena sebenarnya J.D. Salinger hanya menerbitkan sebanyak 13 cerita pendek dan sebuah novel saja–dan semuanya dibuat sebelum tahun 1959. Tentu saja, salah satu novelnya yang terkenal, The Catcher in the Rye, menjelaskan semua tentangnya. Semua yang berhubungan dan membutuhkan untuk menampilkan dirinya di hadapan publik ditolaknya, termasuk wawancara mengenai novelnya. Sejak tahun 1980 Salinger menolak untuk diwawancara hingga akhir hayatnya di tahun 2010. namun ironisnya, secara mengejutkan ulah reklusif Salinger malah membukakan siapa sebenarnya dirinya kepada publik, setelah ditemukan beberapa surat pribadinya. Yakni  surat-surat pribadi, yang berusaha ia sembunyikan dari upaya penulisan biografinya oleh orang lain di tahun 1986.

5. Harper Lee

Harper Lee adalah seorang penulis dengan karya popularnya, To Kill a Mocking Bird yang diterbitkan pada tahun 1960. Novelnya tersebut mengajarkan kepada publik pembaca bahwa seorang reklusif seperti Boo Radley tidak perlu ditakuti. Mengikuti langkah hidup karakter yang dibuatnya di dalam novel, Harper Lee secara sopan menolak untuk diwawancarai sejak tahun 1960’an dan hanya menghadiri sejumlah acara penting aja. Saat ini, ia sepertinya berusaha untuk senantiasa tampil bergaul dengan kalangannya—selama ia tidak harus banyak berbicara. Ketika menghadiri perhelatan Alabama Academy of Honor tahun 2007, ia mengatakan,”lebih baik diam daripada terlihat bodoh.”

6. Bill Watterson
Seorang legenda yang menciptakan Calvin & Hobbes, Bill Waterson secara tiba-tiba menyatakan pensiun dari dunia sastra pada tahun 1995—saat itu ia merasa telah berhasil memenuhi keinginannya dalam membuat karakter dalam berbagai media literasi. Semenjak itu ia berusaha menghindari untuk tampil di depan publik dan memenuhi ajakan wawancara. Ia pun menolak berbagai pihak yang mencoba membuat merchandise sosok dirinya. Bahkan ketika melakukan sebuah penandatangan di sebuah toko buku lokal, ketika mengetahui buku-bukunya terjual habis ia menolak untuk membubuhkan namanya. Di berbagai kesempatan, beberapa wartawan mencoba menemuinya, namun tidak ada yang berhasil menemukannya. Watterson hanya melanggar kenyamanannya beberapa kali, seperti melakukan sebuah wawancara dengan  The Plain Dealer, itu pun dalam acara peringatan Hari jadi ke 15 Tahun perjalanan Calvin & Hobbes.

7. Don DeLillo

Dalam novelnya, Mao II, Don DeLillo, menuliskan:” Ketika seorang penulis tidak memperlihatkan wajahnya, ia akan menjadi sebuah tanda akan adanya Pendewaan sebuah popularitas.”  Rupanya itu adalah pendapat yang sebenarnya dipegang oleh Don DeLillo, melalui dialog seorang karakter yang diciptakannya. Novel kedelapannya, White noise yang terbit pada tahun 1985, mengantarnya meraih penghargaan Anugerah Buku Nasional dan sukses baik secara komersial maupun dalam mencuri perhatian para kritikus sastra. Namun pada tahun 1991, dengan dipublikasikannya novel Mao II, semuanya menjadi jelas bahwa ia memiliki kelainan sosial, ia terlihat menarik diri dari lingkungan masyarakat sekitarnya. Bahkan selama enam tahun ia menghilang dari publikasi dan pergaulan sosial. Pada tahun 1997 barulah ia muncul bersamaan dengan penerbitan mahakaryanya, Underworld, setelah itu ia kembali menarik diri dari pergaulan sosial dan berbagai publikasi lainnya, untuk menuliskan karya-karya lainnya.

8. Cormac McCarthy

Peraih penghargaan bergengsi, Pulitzer, Cormac McCarthy menerima berbagai kritikan dan disebut-sebut salah satu penulis hebat dunia. Bahkan namanya semakin popular ketika karya tulisnya diadaptasikan, No Country For Old Men.  Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa ia adalah seorang yang suka menyendiri dan menutupi dirinya di keramaian manusia, maka banyak yang tidak akan mengenali sosok Cormack ketika berada di keramaian publik. Selama bertahun-tahun ia menolak untuk melakukan sebuah wawancara dan bahkan menghindari undangan makan malam yang sengaja diadakan untuk menghormatinya. Namun beberapa penampilannya di depan publik terpaksa ia lakukan, seperti pada acara Academy Award, film yang merupakan sebuah adaptasi dari novel No Country For Old Men, meraih penghargaan dalam kategori Best Picture. Di selang waktu tersebut pun, ia menghadiri undangan interview dalam acara televisi yang dipandu oleh Oprah—wawancara televisi pertamanya. Setelah dua penampilannya di depan publik, ia pun menarik diri kembali, ke dalam kesunyian yang dikehendakinya.

9. J. M. Coetzee

John Maxwell Coetzee adalah salah satu dari sekian penulis yang meraih beberapa kategori penghargaan, ia pun seorang dari penulis yang suka menyendiri, menghindari kontak apapun dengan orang-orang disekitarnya. Bahkan ketika dirinya berada di dalam sebuah acara jamuan makan malam, ia bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak kedatangannya. Bagaimana pun juga John,  ia bukanlah pembenci manusia, ketidaksukaanya dalam lingkungan pergaulan baginya adalah cara untuk menghasilkan karya terbaik, yang nantinya memberikan kesempatan baginya untuk berbagi dengan masyarakat luas lainnya. Salah satunya ia melakukan kegiatan amal, menggalang dana untuk anak-anak di Benua Afrika yang menjadi yatim piatu, setelah orang tuanya mati akibat HIV/AIDS.

10. Denis Johnson

Kumpulan cerita pendek karya Denis Johnson, Jesus’ Son yang terbit pada tahun 1992, mendapatkan berbagai kritikan dan menarik perhatian publik sastra. Namun tahukah Anda jika, Jonhson menghabiskan waktu sebanyak dua dekade (20 tahun) untuk mengerjakan novelnya? Ya, dan karyanya adalah, Tree of Smoke, yang memenangkan Anugerah Buku Nasional, di Amerika Serikat. Dan saat itu ia hanya melakukan sebuah wawancara dan membacakan novelnya, selebihnya ia menolak untuk berbagai acara ataupun konferensi pers untuk membahas novelnya. John menghabiskan hidupnya di pinggiran Negara Bagian Arizona dan Idaho, di sanalah ia mendidik ketiga anaknya, homeschooling. Namun metode homeschoolingnya tersebut dipublikasikan di internet pada tahun 1997, sehingga demikian, menghancurkan tembok isolator yang membatasi dirinya dengan publik